Jumat, 22 Mei 2009

Potongan Kertas Itu Membuatku Merenung

Ujian Tengah Semester (UTS) baru kujalani. Seperti biasa aku membuat catatan mata kuliah berupa mind maping untuk mempermudah menghafal. Selain itu fokus ketika di kelas cukup membantuku memahami materi.
Saat menjalani UTS ketenangan sangat membantu. Sempat kurang sehat, namun aku dapat menyelesaikannya. Terbelalak dengan apa yang kudapati di ruangan? Materi yang kuhafal, untuk menyelesaikan soal UTS. Ditandingi oleh potongan kertas-kertas kecil yang berisi catatan kuliah, atau bahasa familiarnya "contekan". Hafalanku ditandingi dengan catatan yang dibuka saat ujian. Kertas kecil itu diselipkan di saku, di bawah soal ujian, di dalam tempat pensil. Lalu dilihat sewaktu-waktu saat pengawas ujian lengah.
Yang kuketahui tidak semua temanku seperti itu. Ada beberapa yang takut membuat catatan. Kekalutanku membuatku marah, marah itu kulampiaskan dengan bertanya pada mereka yang memiliki catatan, dan jawabannya? Ya, sama seperti apa yang ada di dalam buku.
Aku merenung, sampai di rumah kukatakan pada ibuku aku telah menyontek. Ibu kaget, namun dia tidak komentar. Dia hanya memotivasiku untuk segera lulus, lalu lanjutkan ke S2.
Apa para dosen menilai hanya dari tes tulis yang hanya berlangsung 100 menit? Yang kuyakini adalah Allah SWT Maha Adil, Maha Mengetahui. Kuharap keadilan juga dimiliki oleh hamba-Nya. Dosenku... semoga hatimu senantiasa dalam cahaya hidayah-Nya. Komitmenlah pada penilaian yang tidak hanya terpaku pada kognitif yang diukur tes tulis. Aku bahagia menjadi mahasiswa FKIP, aku bangga. Kebahagiaanku semoga tetap membuatku netral dan mampu sinergi serta berprestasi.

Kamis, 21 Mei 2009

Syurgaku

Syurgaku
Ia sedang pergi menjemput impian
Kembali padaku membawa hadiah terindah
Ia bukan hanya berjanji membahagiakanku
Itu telah terbukti
Aku bahagia bersamanya
Mendampinginya
Hingga tutup usiaku
Saat ia kembali
Ku hamparkan sejuta impian
Untuk kembali kami dapati

Minggu, 03 Mei 2009

SOSIOLINGUISTIK

Sosio adalah masyarakat, dan linguistik adalah kajian bahasa. Jadi sosiolinguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkam dengan kondisi kemasyarakatan [dipelajari oleh ilmu-ilmu sosialkhususnya sosiologi].

Pada awal abad ke-20, De Saussure (1916) telah menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan, yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain, seperti perkawinan, pewarisan harta peninggalan, dan sebagainya.

Pakar lain, Charles Morris, dalam bukunya Sign, Language, and Behaviour (1946) yang membicarakan bahasa sebagai system lambing. Ada tiga macam kajian bahasa berkenaan dengan focus perhatian yang diberikan, yaitu:

a : Semantik, jika perhatian difokuskan pada hubungan antara lambang dengan maknanya.

b : Sintaktik, jika fokus perhatian diarahkan pada hubungan lambang

c : Pragmatik , fokus perhatian diarahkan pada hubungan antara lambang dengan para penuturnya.

Beberapa Rumusan mengenai Sosiolinguistik:

a : menurut Kridalaksana (1978:94) , Sosiolinguistik nlazim didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajaari ciri dan berbagai variasi bahasa di dalam masyarakat bahasa.

b : menurut Nababan (1984 :82) , Perngkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan .

c : menurut Fishman (1972) , Sosiolinguistics is the study of the caracteristics of language varieties, the carakteristics of their functions,and the characteristics of their speakers as these three constlantly interact, change and change one another within a speech community, ( Sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi–fungsi variasi bahasa, dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat).

d: Sociolinguistyiek is de studie van tall en taalgebruik in de context van maatschapij en kultuur, (Sosiolimguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks sosial dan kebudayaan. (Rene appel , Gerad Hubert , Greus Meijer 1976:10).

e : Sociolinguistiek is subdisiplin van de taalkunde , die bestudert welke sosial faktoren een rol nspelen in het taalgebruik er welke taal spelt in het sosial verkeer. (Sosiolinguistik adalah subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam penggunaan bahasa dan pergaulan sosial. (G,E. Booij , J.G. Kersten, dan H.J Verkuyl 1975:139).

F : Sosiolinguistcs is the study of language operation, it’s purposeis to investigatehow the convention of the language use relate to other aspects of sosial behavior. (Sosiolinguistik adalah kajian bahasa dalam penggunaannya , dengan tujuan untuk meneliti bagaimana konvevsi pemakaian bahasa berhubungan dengan aspek-aspek laindari timgkah laku sosial. (C.Criper dan H.G.Widdowson dalam J.P.B Allen dan S.Piet Corder 1975:156).

g. Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it’s focus , viewing variation or it sosial context. Sociolinguistics is concerned with the correlation between such sosial factors and linguistics variation. ( Sosiolinguistik adalah pengembangan sub bidang yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran , serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial . Sosiolinguistik meneliti korelasi antara factor-faktor sosial itu dengan variasi bahasa. (Nancy Parrot Hickerson 1980:81).

Dari definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa Sosiolimguistik adalah cabang ilmu linguistic yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi , dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial di dalam suatu masyarakat tutur. Atau lebih secara operasional lagi seperti dikatakan Fishman (1972,1976) , …study of who speak what language to whom and when”.

Selain istilah sosiolinguistik juga digunakan istilah sosiologi bahasa. Banyak orang yang menganggap hal itu sama, tapi banyak pula yang menganggapnya berbeda. Ada yang mengatakan digunakannya istilah sosiolinguistik karena penelitiannya dimasuki dari bidang linguistik , sedangakan istilah sosiologi bahasa digunakan kalau penelitian itu dimasuki dari bidang sosiologi. (Nababan 1884:3 juga brigh 1992:vol 4:9 ). J.A. Fishman , pakar sosiolinguistik yang andilnya sangat besar dalam kajian sosiolinguistik, mengatakan kajian sosiolinguistik lebih bersifat kualitatif,sedangkan kajian sosiologi bahasa bersifat kuantitatif. Jadi sosiolinguistik lebih berhubungan dengan perincian-perincian penggunaan bahasa yang sebernanya, seperti deskripsi pola-pola pemakaian bahasa atau diale dalam usaha tertentu.

Istilah sosiolinguistik muncul pada tahun 1952, dalam karya Haver C. Currie yang menyarankan perlu adanya penelitian dengan hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial . Fishman sendiri dalam bukunya yang terbit tahun 1970, menggunakan nama sosiolinguistics , tapi pada tahun 1972 menggunakan nama sociology of language. Haliday seorang linguis inggris , yang banyak memperhatikan segi kemasyarakatan bahasa , dalam bukunya The Linguistic s Science and Language Teacing , yang menggunakan istilah institutional, lintics Sciense and Language Teaching.

Bahasa adalah sebuah sistem , artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap, dan dapat dikaidahkan. Cirri dari hakikat bahasa adalah , bahwa bahasa itu adalah system lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Dengan sistematis maksudnya , bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan.

Sistem bahasa yang digunakan berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi. Setiap lambang bahasa menggunakan lambang bahasa ya ng berbunyi [kuda], melambangkan konsep atau makna . Dalam bahasa Indonesia satuan bunyi [air], [kuda], dan [meja] adalah lambang ujaran karena memiliki makana , tetapi bunyi- bumyi [rai], [akud], [ajem] bukanlah lambang ujarankarena tidak memiliki makna. Lambang bahasa itu bersifat arbitrer , artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya, tidak bersifat wajib , bisa berubah , dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang itu mengonsepi makna tertentu.

Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit , sebab seperti dikemukakan Fishman bahwa yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah “who speak what language to whom, when and to what end.

Dari sudut penutur , bahasa itu personal atau pribadi. Salah satu fungsi bahasa yaitu komunokasi , maka ada 3 komponen yang harus ada dalam komunikasi, yaitu:

1. Pihak yang berkomunikasi, yakni pengirim dan penerima informasi yang dikomunikasikan. Disebut partisipan.

2. Informasi yang dikomunikasikan

3. Alatyang digunakan dalam komunikasi itu.

Setiap perbuaatan bisa di tafsirkan sesuai dengan kebiasaan budaya dalam suatu masyarakat. Suatu perbuatan bisa disebut bersifat komunikatif adalah kala perbuatan itu dilakukan dengan sadar dan ada pihak lain yang bertindak sebagai penerima pesan dari perbuatan itu.

Dalam setiap komunikasi ada dua pihak yang terlihat , yaitu pengirim pesan (sender), penerima pesan (receiver). Setiap proses komunikasi bahasa dimulai dengan si pengirim merumuskan terlebih dahulu apa yang akan diujarakan dalam bentuk suatu gagasan.

Ada dua macam komunikasi bahasa , yaitu komunikasi sewarah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi searah , si pengirim tetap sebagai pengirim dan si penerima tetap sebagai penerima. Bahasa itu dapat mempengaruhi perilaju manusia. Sebagai alat komunikasi , bahasa iyu terdiri dari dua aspek yaitu linguistik dan aspek non linguistik.

Aspek para linguistikk mencakup :

1. kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang seperi falseto

2. unsur supra segmental , yaitu tekanan (stress)

3. jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti gerakan anggota kepala , tangan dan sebagainya

4. rabaan , yang berkenaan dengan indra perasa.

(Sumber: Hasil pencarian di google)


>Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.

>Ferdinand de Saussure (1961) membedakan langage, langue, parole:

-Langage: Digunakan untuk menyebut bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi.

-Langue: Sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi sesamanya.

-Parole: Bersifat konkret, karena parole itu merupakan pelaksanaa dari langue dalam bentuk ujaran atau tuturan yang dilakukan oleh para anggota masyarakat di dalam berinteraksi atau berkomunikasi terhadap sesamanya.

>Masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidak-tidaknya mengenal satu variasi bahasa serta norma-norma yang sesuai dengan penggunaannya. (Fishman, 1976:28)

Variasi Bahasa

>Hartman dan Stork (1971) membedakan variasi berdasarkan kriteria

a. Latar belakang geografi dan sosial penutur,

b. medium yang digunakan, dan

c. pokok pembicaraan.

> Variasi bahasa dikategorikan menjadi”

1. Berdasarkan Penutur

-Idiolek: “Warna suara” (konsep bahasa perseorangan)

-dialek:sekelompok penutur (geografis)

-kronolek: waktu (pada masa tertentu)

-Sosialek terbagi-bagi menjadi:

~Akrolek, variasi bahasa yang digunakan oleh orang berstatus sosial tinggi (bangsawan).

~Basilek, variasi bahasa yang digunakan oleh status sosial rendah.

~Slang, bahasa khusus/rahasia (digunakan oleh penjahat).

~Vulgar, bahasa yang digunkan oleh orang kurang terpelajar.

~Kolokial, bahasa percakapan (mis: dok. (dokter), prof. (profesor)).

~Jargon, digunakan oleh kelompok tertentu (mis: oleh montir> dipoles, disipat)

~Argot, digunakan oleh profesi tertentu (mis: potong ≠ amputasi).

2. Berdasarkan Pemakai

Variasi bahasa berdssarkan pemakai disebut fungsioleh, ragam atau register.

3. Berdasarkan Keformalan

1. Ragam beku,

2. ragam resmi (formal),

3. ragam akrab (intimate),

4. ragam usaha (konsultatif),

5. ragam santai (casual).

4. Berdasarkan Sarana

Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Yaitu ragam lisan danragam tulis.

(Dirangkum dari buku Sosiolinguistik, Abdul Chaer. 2004)



Senin, 23 Maret 2009

Pikiran Bawah Sadar

Sigmund Freud dan banyak ahli psikologi lain menyatakan bahwa pikiran manusia terdiri dari pikiran sadar dan bawah sadar. Pikiran sadar dan bawah sadar berkomunikasi satu dengan yang lain. Namun, pikiran bawah sadar tidak selalu sejalan dengan pikiran sadar. Kadang-kadang, pikiran bawah sadar sudah memiliki "program" sendiri, emosi, kebiasaan, dan kepercayaan yang sudah tertanam sebelumnya. Ternyata, 88% pikiran bawah sadar memengaruhi sikap dan perilaku manusia dibandingkan pikiran sadarnya.
Seperti komputer, sebenarnya, pikiran manusia terdiri dari program-program yang "di-install" ke dalamnya. Pemprograman itu dimulai saat seseorang masih kanak-kanak. Pengasuhan orangtua dan perlakuan orang yang lebih dewasa di sekitarnya biasanya mudah di-install. Pertanyaannya adalah program seperti apa yang dimasukkan: positif atau negatif? Para ahli psikologi umumnya sepakat bahwa masa kanak-kanak, khususnya lima tahun pertama, cukup berpengaruh dalam kehidupan sese orang di masa-masa berikutnya. Oleh karena itu, bisa ditebak bagaimana pengaruh dari program positif atau negatif yang sudah ter-install dalam pikiran.
Menariknya, program-program tersebut-sama seperti kom­puter- bisa diganti atau diubah dengan program baru. Salah satunya adalah dengan mengakses bawah sadar melalui hipnosis. Oleh sebab itulah, hipnosis bisa digunakan untuk terapi, yaitu memprogram ulang pikiran dengan cara mengganti program negatif menjadi program positif. Berikut ini adalah uraian berbagai gelombang otak dan aktivitas terkait didalamnya:
Beta (14-25 Hz): normal
Gelombang otak Beta dominan terjadi pada seseorang yang sedang melakukan aktivitas. Atensi, kewaspadaan, kesigapan, pemahaman, kondisi yang lebih tinggi diasosiasikan dengan ke­cemasan dan ketidaknyamanan.
Alpha (8-13 Hz): meditatif
Gelombang otak Alpha dominan terjadi pada seseorang yang sedang melakukan aktivitas. Relaksasi, pembelajaran super, fokus relaks, kondisi trance ringan, peningkatan produksi serotonin, kondisi pra-tidur, meditasi, dan awal mengakses pikiran bawah sadar (unconscious).
Theta (4-7 Hz): meditatif
Gelombang otak Theta dominan terjadi pada seseorang yang sedang melakukan aktivitas: Tidur bermimpi (tidur REM/Rapid Eye Movement), peningkatan produksi catecholamines (sang at vital untuk pembelajaran dan ingatan), peningkatan kreativitas, pengalaman emosional, potensi terjadinya perubahan sikap, peningkatan pengingatan materi yang dipelajari, hypnogogic imagery, meditasi mendalam, lebih dalam mengakses pikiran bawah sadar.

Delta (0,5 - 3 Hz): tidur lelap
Gelombang otak Delta dominan terjadi pada seseorang yang sedang melakukan aktivitas. Tidur tanpa mimpi, pelepasan hormon pertumbuhan, kondisi non-fisik, hilang kesadaran pada sensasi fisik, akses ke pikiran bawah sadar (unconscious), dan memberikan sensasi yang sangat mendalam ketika diinduksi dengan holosinc.

Sumber: Fachri, Hisyam A.; The Real Art of Hypnosis; 2008; gagas media; Jakarta.

Selasa, 10 Februari 2009

Peranan Sosial Profesi Guru

Profesi berasal dari bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua pengertian yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi: kegiatan “apa saja” dan “siapa saja” untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keah-lian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.
Istilah profesi itu didapat sebagian terbesar dari mereka, orang-orang yang mengajarkan atau “to profess” ( menyatakan ). Awalnya, ini dari perintah agama, tetapi pada abat ke 17, definisi dari perkataan ini dialihkan kedalam masalah duniawi yang berarti “proses pencapaian hak kualifikasi”. Awal dari profesionalisme itu berhubungan dengan agama, namun demikian lambat laun istilah profesi itu dikaitkan dengan masalah duniawi dan terpisah dari masalah agama.
Dan umumnya sebutan profesi ini diperoleh setelah yang bersangkutan memenuhi beberapa persyaratan kemampuan dan pengalaman profesional yang ditambahkan atas pendidikan akademisnya. Ketentuan Pemerintah mengenai sebutan Profesi ini menyebutkan bahwa penetapan mengenai suatu sebutan profesi dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan cq. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, berdasarkan rekomendasi Organisasi Profesi yang bersangkutan.

JABATAN GURU SEBAGAI SUATU PROFESI
Jabatan guru dapat dikatakan sebuah profesi karena menjadi seorang guru dituntut suatu keahlian tertentu (meng-ajar, mengelola kelas, merancang peng-ajaran) dan dari pekerjaan ini se- seorang dapat memiliki nafkah bagi kehidupan selanjutnya. Hal ini berlaku sama pada pekerjaan lain. Namun da-lam perjalanan selanjutnya, mengapa profesi guru menjadi berbeda dari pekerjaan lain. Menurut artikel “The Limit of Teaching Proffesion,” profesi guru termasuk ke dalam profesi khusus _ selain dokter, penasihat hukum, pastur. Kekhususannya adalah bahwa hakekatnya terjadi dalam suatu bentuk pela-yanan manusia atau masyarakat. Orang yang menjalankan profesi ini hendak-nya menyadari bahwa ia hidup dari padanya, itu haknya; ia dan keluarga-nya harus hidup _ akan tetapi hakikat profesinya menuntut agar bukan nafkah hidup itulah yang menjadi motivasi utamanya, melainkan kese- diaannya untuk melayani sesama.Di lain pihak profesi guru juga disebut sebagai profesi yang luhur. Dalam hal ini, perlu disadari bahwa seorang guru dalam melaksanakan profesinya dituntut adanya budi luhur dan akhlak yang tinggi. Mereka (guru) dalam ke-adaan darurat dianggap wajib juga membantu tanpa imbalan yang cocok. Atau dengan kata lain hakikat profesi luhur adalah pengabdian kemanusia-an.
Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan rasa keterpanggilan — serta ikrar (fateri/profiteri) untuk menerima panggilan tersebut — untuk dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan ditengah gelapnya kehidupan (Wignjosoebroto, 1999). Dengan demikian seorang profesional jelas harus memiliki profesi tertentu yang diperoleh melalui sebuah proses pendidikan maupun pelatihan yang khusus, dan disamping itu pula ada unsur semangat pengabdian (panggilan profesi) didalam melaksanakan suatu kegiatan kerja. Hal ini perlu ditekankan benar untuk mem bedakannya dengan kerja biasa (occupation) yang semata bertujuan untuk mencari nafkah dan/ atau kekayaan materiil-duniawi. Lebih lanjut Wignjosoebroto [1999] menjabarkan profesionalisme dalam tiga watak kerja yang merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian “jasa profesi” (dan bukan okupasi) ialah bahwa kerja seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil; bahwa kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang, ekslusif dan berat; bahwa kerja seorang profesional — diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral — harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi profesi. Ketiga watak kerja tersebut mencoba menempatkan kaum profesional (kelompok sosial berkeahlian) untuk tetap mempertahankan idealisme yang menyatakan bahwa keahlian profesi yang dikuasai bukanlah komoditas yang hendak diperjual-belikan sekedar untuk memperoleh nafkah, melainkan suatu kebajikan yang hendak diabdikan demi kesejahteraan umat manusia. Kalau didalam peng-amal-an profesi yang diberikan ternyata ada semacam imbalan (honorarium) yang diterimakan, maka hal itu semata hanya sekedar “tanda kehormatan” (honour) demi tegaknya kehormatan profesi, yang jelas akan berbeda nilainya dengan pemberian upah yang hanya pantas diterimakan bagi para pekerja upahan saja.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya bersangkutan dengan profesi atau bidang pekerjaan yang berdasarkan pendidikan keahlian tertentu. Seorang profesional memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankan profesinya, Pengertian profesional dalam visi di atas, bahwa Puslitbangwas sebagai institusi yang mempunyai tugas dan fungsi di bidang penelitian dan pengembangan harus di dukung dengan SDM yang kompeten, yaitu menguasai berbagai metodologi penelitian di bidangnya, memiliki integritas yang tinggi, senantiasa bersikap independen dan objektif, serta berorientasi kepada penciptaan hal-hal baru (inovatif) yang dapat memberikan nilai tambah bagi kepentingan mitra kerja dan pengguna hasil.

GURU DAN LINGKUNGAN SOSIAL
Peranan guru dalam masyarakat tergantung pada gambaran
masyarakat tentang kedudukan guru dan ststus sosialnya di
masyarakat. Kedudukan sosial guru berbeda di negara satu
dengan negara lain dan dari satu zaman ke zaman lain pula. Di
negara-negara maju biasanya guru di tempatkan pada posisi sosial
yang tinggi atas peranan-peranannya yang penting dalam proses
mencerdaskan bangsa. Namun keadaan ini akan jarang kita temui
di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Sebenarnya peranan itu juga tidak terlepas dari kualitas
pribadi guru yang bersangkutan serrta kompetensi mereka dalam
bekerja. Pada masyarakat yang paling menghargai guru pun akan
sangat sulit untuk berperan banyak dan mendapatkan kedudukan
sosial yang tinggi jika seorang guru tidak memiliki kecakapan dan
kompetensi di bidangnya. Ia akan tersisih dari persaingan dengan
guru-guru lainnya. Apalagi guru-guru yang tidak bisa memberikan
keteladanan bagi para muridnya, sudah barang tentu ia justru
menjadi bahan pembicaraan orang banyak. Jika dihadapan para
muridnya seorang guru harus bisa menjadi teladan, ia pun
dituntut hal yang sama di dalam berinteraksi dengan masyarakat
sekitar.
Penghargaan atas peranan guru di negara kita bisa dibedakan
menjadi dua macam. Pertama, penghargaan sosial, yakni penghargaan
atas jasa guru dalam masyarakat. Dilihat dari sikap-sikap
sosial anggota masyarakat serta penempatan posisi guru dalam
stratifikasi sosial masyarakat yang bersangkutan. Hal semacam ini
akan tampak jelas kita amati pada mayarakat pedesaan yang mana
mereka selalu menunjukkan rasa hormat dan santun terhadap
para guru yang menjadi pengajar bagi anak-anak mereka. Mereka
(masyarakat) lebih biasa memberi kata-kata sapaan santun
terhadap guru seperti pak guru, mas guru dan sebagainya
daripada profesi-profesi yang lain.
Kedua, adalah penghargaan ekonomis, yakni penghargaan
atas peran guru dipandang dari seberapa besar gaji yang diterima
oleh guru. Dengan kondisi gaji guru-guru di Indonesia sampai
tahun 2000 an ini, tidak mungkin menjadi sejahtera dalam hal
ekonomi hanya dengan pekerjaan mangajarnya saja. Hal inilah
yang menjadikan kurang maksimalnya peranan guru dalam
menjalankan tugas mengajar apalagi melakukan pengabdian pada
masyarakat.
Dalam perspektif perubahan sosial, guru yang baik tidak saja
harus mampu melaksanakan tugas profesionalnya di dalam kelas,
namun harus pula berperan melaksanakan tugas-tugas pembelajaran
di luar kelas atau di dalam masyarakat. Hal tersebut sesuai
pula dengan kedudukan mereka sebagai agent of change yang
berperan sebagai inovator, motivator dan fasilitator terhadap
kemajuan serta pembaharuan.
Dalam masyarakat, guru adalah sebagai pemimpin yang
menjadi panutan atau teladan serta contoh (reference) bagi masyarakat
sekitar. Mereka adalah pemegang norma dan nilai-nilai yang
harus dijaga dan dilaksanakan. Ini dapat kita lihat bahwa betapa
ucapan guru dalam masyarakat sangat berpengaruh terhadap
orang lain. Ki Hajar Dewantoro menggambarkan peran guru
sebagai stake holder atau tokoh panutan dengan ungkapan-ungkapan
Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri
Handayani.
Di sini tampak jelas bahwa guru memang sebagai “pemeran
aktif”, dalam keseluruhan aktivitas masyarakat sercara holistik.
Tentunya para guru harus bisa memposisikan dirinya sebagai
agen yang benar-benar membangun, sebagai pelaku propaganda
yang bijak dan menuju ke arah yang positif bagi perkembangan
masyarakat.


Peranan Guru terhadap Guru Lain
Kalimat di atas mengandung makna bahwa seorang guru
harus bisa berperan untuk kepentingan komunitasnya sendiri,
yakni komunitas para guru. Sebagai sebuah profesi, biasanya
hubungan antar guru satu dengan guru lainnya diwadahi oleh
organisasi yang menaungi dan mewadahi aspirasi mereka. Di
negara kita organisasi yang menaungi para guru, misalnya: PGT
(Persatuan Guru TK), PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)
dan sebagainya. Lewat organisasi-organisasi ini para guru bisa
saling berkomunikasi dan memperjuangkan kepentingan bersama
mereka dengan semangat kebersamaan yang tinggi sehingga apa
yang menjadi keinginan para guru relatif lebih mudah dicapai.
Pertanyaan yang mendasar sehubungan dengan jenis-jenis
organisasi profesi keguruan tersebut adalah sejauh mana program
serta kegiatannya menyentuh kebutuhan diri guru serta pengembangan
karirnya?. Secara operasional seharusnya perjuangan dan
pembinaan yang dilakukan oleh organisasi profesi keguruan tersebut
dapat mengangkat martabat guru yang menjadi anggotanya,
memberi perlindungan hukum bagi guru, meningkatkan kesejahteraan
hidup guru, memandu serta mengusahakan peluang untuk
pengembangan karir guru, dan membantu ikut memecahkan
konflik-konflik dan masalah-masalah yang dialami atau yang
dihadapi oleh para guru .


Senin, 09 Februari 2009

Pikatan Sang Dosen

Dosen yang memikat hati. Dengan senyum ramah, wibawa, serta ketulusan dalam bergaul dan berbagi dengan mahasiswa. Tak hanya ilmu diberi, pengalaman hidup, kisah nyata, yang mampu membuat sanubari termangu dan merenung. Hingga mampu mendewasakan diri. Gayanya bersahaja, ramah, dan selalu tersenyum. Mencoba mengakrabkan diri dengan mahasiswa dan rekan keja. Dengan kejelian mata hati dan ketajaman intuisi, Ia mampu mengetahui potensi mahasiswanya. Potensi yang sayang bila terlalu lama terlelap. Dengan ramah Ia dekati dan melejitkan potensi. Pencari bibit unggul dengan pengalaman hidup yang luas. Aku memanggilnya ibu, dan Ia menganggapku anaknya. Ia peduli pada semua. Ibu, selalu tersenyum, menangis bila bahagia dan menangisi duka sebagai hikmah yang nyata. Ibu Eri Sarimanah,M.Pd., dosen di Universitas Pakuan, kampus yang kubanggakan. Dengan segala kelebihan tapi kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Begitlah ibu, selalu berbagi dan memberi, saya yakin, bukan hanya hati ini yang terpikat oleh biusan wibawanya. Mahasiswa/i, serta alumni pasti terkenang, misalnya salah satu alumni yang pernah terkesan yaitu kang Apong. Alumni yang sempat berbagi cerita tentang sang dosen. Yang selal kukenang adalah motivasi dari ibu "Membaca..baca..dan baca".

Rabu, 24 Desember 2008

Diagnosis Kasus Pelajaran Bahasa Jepang

BAB I
PENDAHULUAN


A.Latar Belakang
Lembaga pendidikan pada umumnya sekolah-sekolah khususnya merupakan tumpuan harapan para orangtua, siswa, dan warga masyarakat guna memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan sifat-sifat kepribadian utama, sebagai sarana penngembangan karir, peningkatan status sosial, dan bekal hidup lainnya di dunia kini dan di akhirat nanti. Fungsi dari bimbingan adalah untuk mengarahkan potensi siswa dan membantu permasalahan dan kesulitan belajar yang dihadapi siswa untuk diberikan jalan keluar atau penyelesaian yang baik dan benar.
Dalam sistem pendidikan kita yang masih bersifat tradisional meskipun para guru sebenarnya telah mengetahui adanya kualifikasi siswa seperti siswa yang nilainya di atas nilai rata-rata, siswa yang nilainya di sekitar rata-rata, dan siswa yang nilainya di bawah rata-rata. Siswa yang nilainya di bawah rata-rata yang memerlukan perhatian khusus dalam proses kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Selain perhatian khusus tindakan penangan dalam upaya peningkatan prestasi belajar siswa sangat dibutuhkan. Dengan demikian siswa diharapkan memiliki potensi kompetensi dari dalam dirinya dan dikukung oleh guru pembimbing yang memberikan layanan bimbingan.

B.Masalah
1. Siapakah siswa kelas XI IPA 1 yang mengalami kesulitan belajar dalam mata pelajaran bahasa Jepang?



C. Tujuan
Tujuan dari identifikasi kasus kesulitan belajar siswa ini adalah untuk mengetahui penanganan terbaik yang harus dilakukan. Agar siswa memiliki motivasi belajar yang lebih baik dan mengetahui potensi dirinya. Serta tercapainya tingkat perkembangan individu secara optimum, sesuai dengan abilitas, minat, dan kebutuhan-kebutuhannya. Maksud dari perkembangan optimum adalah tercapainya penguasaan (mastery) secara optimal. Khususnya perubahan perilaku menjadi lebih baik dengan motivasi belajar yang membaik.




BAB II
PEMBAHASAN

1. Kasus Kesulitan Belajar

Siswa atau individu yang mengalami kesulitan belajar bahasa Jepang di kelas XI IPA 1. Penelitian ini dilaksanakan dengan mewawancara langsung guru mata pelajaran bahasa Jepang kelas XI IPA 1. Wawancara ini bertujuan mengidentifikasi kasus kesulitan belajar yang dialami siswa kelas IX IPA 1 dalam mata pelajaran bahasa Jepang. Serta penanganan yang dilakukan oleh pembimbing atau guru bidang studi dalam menangani siswa yang mengalami kesulitan belajar.

Tabel materi bahasa Jepang yang diajarkan di kelas XI IPA 1

Materi Bahasa Jepang
1 Huruf Hiragana
2 Huruf Katakana
3 Kanji Dasar
4 Pola Kalimat








2. Identifikasi Masalah

Dari grafik tersebut dapat ditentukan bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah Nov, A.J.P, dan No. Nov mendapatkan nilai 69,00 A.J.P. 59,00 dan No. 67,00. Dengan nilai bahasa Jepang 59,00 A.J.P mendapatkan nilai jauh dari rata-rata kelas dengan jumlah 82,50 dari jumlah siswa dalam satu kelas 43 orang. Menurut pembimbing atau guru mata pelajaran terkait kesulitan belajar A.J.P ada pada penguasaan dasar materi yaitu penguasaan huruf Jepang.

Materi Bahasa Jepang yang Tidak Dikuasai A.J.P.
1 Huruf Hiragana
2 Huruf Katakana
3 Kanji Dasar
4 Pola Kalimat

A.J.P. tidak menguasai huruf hiragana dan huruf katakana hingga kesulitan untuk melanjutkan materi berikutnya. Apabila materi dasar yaitu huruf hiragana dan katakana tidak dapat dikuasai maka A.J.P. tidak dapat menguasai materi berikutnya karena materi berikutnya sudah dijelaskan dengan bahasa Jepang. Kanji dasar dan pola kalimat tidak dapat diikuti A.J.P. Karena kurang pemahaman sejak awal materi pembelajaran. Jadi masalah yang dialami A.J.P. adalah kesulitan penguasaan materi dasar bahasa Jepang.


3. Diagnosis

Diagnosis, merupakan istilah teknis (terminology) yang kita adopsi dari bidang medis. Seorang siswa diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu. Kemungkinan faktor penyebab A.J.P. tidak menguasai materi dapat disebabkan minat dalam mata pelajaran bahasa Jepang dapat diteliti dari awal A.J.P. mengikuti materi atau awal menjadi peserta didik yang terkait dengan sistem pendidikan sebagai sebuah komponen. Pendidikan sebagai sebuah sistem terdiri dari sejumlah komponen. Toffler (1970) menganalogikan sekolah dengan sebuah pabrik. Persamaan tersebut dilihat dari segi mekanismenya, ada persamaan antara keduannya dari segi mekanisme. Disimpulkan bahwa komponen-komponen yang menunjang sistem pabrik meliputi:
a. Masukan mentah (raw input)
b. Masukan instrumental (instrumental input)
c. Masukan lingkungan (envoromental input)
Yang dikemukakan di atas dapat digambarkan sebagai berikut.










Gambar 1.1 Model/sistem terbuka

Model tersebut menggambarkan model sistem pada umumnya yang berlaku atau terdapat pada berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan :
a. Sistem baru merupakan masukan mentah (raw input) yang akan diproses menjadi tamatan (out put).
b. Guru dan tenaga nonguru, administrasi sekolah, kurikulum, anggaran pendidikan, prasarana dan sarana merupakan masukan intrumental (instrumental input) yang memungkinkan dilaksanakannya pemrosesan masukan mentah menjadi tamatan.
c. Corak budaya dan kondisi ekonomi masyarakat sekitar, kependudukan, politik dan kemanan negara merupakan faktor lingkungan atau masukan lingkungan (enviromental input) yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap berperannya masukan instrumental dalam pemrosesan masukan mentah

Sistem pendidikan tersebut secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut:







Gambar 1.2 Sistem pendidikan



4. Prognosis

Untuk kasus A.J.P faktor penyebab yang paling utama adalah A.J.P adalah murid pindahan. Dalam sistem pendidikan hal ini berhubungan erat dengan raw input. Sehingga A.J.P. tidak mendapatkan materi pelajaran bahasa Jepang pada saat kelas X. Ketika A.J.P. pindah sekolah dan duduk di kelas XI IPA 1 yang mendapatkan materi bahasa Jepang, A.J.P. tidak dapat menyusul ketertinggalan materi. Selain itu A.J.P. terhadap mata pelajaran bahasa Jepang kurang memiliki minat. A.J.P. masuk dalam kategori siswa Characteristic of the learners, kelemahan disebabkan oleh:
1. Kurangnya kemampuan dan keterampilan kognitif,
2. Terbatasnya kemampuan menghimpun dan mengitegrasikan informasi,
3. Kurangnya gairah belajar karena kurang jelasnya tujuan atau aspirasi.

5. Bantuan yang Diberikan

Jika jenis dan sifat permasalahan serta sumber permasalahannya masih bertalian dengan sistem belajar-mengajar dan masih dalam kesanggupan dan kemampuan (dalam arti teknis dan otoritas) para guru, seyogianya bimbingan itu dilakukan oleh guru sendiri. Namun, kalau permasalahannya sudah menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam atau aspek-aspek yang lebih luas lagi (kesehatan mental, medis, sosial dan sebagainya), maka selayaknya tugas guru hanya membuat rekomendasi (referral) kepada para petugas/ahli yang kompeten dalam bidang-bidang tersebut. Dalam kasus A.J.P. otoritas masih berada dalam bimbingan guru mata pelajaran yaitu guru mata pelajaran bahasa Jepang. Penanganan mengenai nilai A.J.P. di bawah nilai rata-rata kelas langsung ditangani oleh guru bahasa Jepang. Penanganan yang dilakukan oleh guru mata pelaran tersebut antara lain:
1. Menghindari saran atau pernyataan yang negatif yang dapat melemahkan kegairahan belajar.
2. Menciptakan situasi-situasi kompetitif sesama siswa secara sehat.
3. Menunjukkan manfaat dari pelajaran bagi kepentingan siswa yang bersangkutan pada saat kini dan nanti.
4. Melakukan remedial-teaching.

Untuk kasus A.J.P. guru bidang studi melakukan remedial-teaching. Pengajaran remedial merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dan usaha dianostik kesulitan belajar mengajar. Untuk memperbaiki nilai A.J.P, dia harus mengikuti prosedur penilaian guru mata pelajaran bahasa Jepang, dan meningkatkan minat belajar. Aspek penilaian untuk bidang studi bahasa Jepang adalah:
1. Kognitif
2. Psikomotor
3. Afektif
Apabila A.J.P dapat mengikuti materi yang diberikan sesuai dengan kriteria pengajaran guru bahasa Jepang, maka nilai A.J.P. di buku rapor akan mengalami perbaikan.


5. Evaluasi
Guru seyogianya mampu dalam menangani kasus kesulitan belajar siswa. Dengan memahami panangan dalam masalah kesulitan belajar siswa maka diharapkan pendidik mampu membimbing dan mengarahkan peserta didik ke arah perubahan yang lebih baik. Model penanganan dengan remedial-teaching akan lebih maksimal jika disertai dengan pendekatan yang dilakukan guru bidang studi terhadap siswa yang bersangkutan. Untuk kasus A.J.P. guru bidang studi mampu memotivasi minat A.J.P. dalam pelajaran bahasa Jepang dengan memberikan motivasi belajar, dan kesempatan memperbaiki nilai.


















SIMPULAN


Diperlukan tahapan-tahapan yang dilakukan dalam menyelesaikan masalaha berupa kasus kesulitan belajar yang dialami siswa. Mulai dari identifikasi kasus, diagnosis, prognosis, bantuan yang diberikan, serta evaluasi. Hal tersebut dibutuhkan guna mencapai ketepatan dalam penanganan kasus. Dengan mengikuti sistematika dan aturan yang berlaku maka penanganan yang cepat dan tepat dapat dilakukan dengan baik guna meningkatkan potensi dan motivasi belajar siswa.